Atau, Pria yang berkeringat deras,gemetar, kamisosolen (bilang benul,untuk benar dan betul), meremas sekantung kentang goreng, menyerahkan separuh kepada Anda,lalu dia bilang, … kawin yuk?! -MT-
Saya pilih yang kedua :)
Jakarta,25 Desember 2010
Kembali saya dikejutkan dengan pertanyaan itu : "kapan nikah?tahun depan udah 25 loh,jangan ketuaan buat nikah,kasian anaknya" ... 2x dalam sehari (ˇ__ˇ')
Bagaimana lagi saya harus menjawabnya, memang saya selalu menjawab dengan,tenang aja, inshallah, kapan2, dan jawaban gak bermakna lainnya. Tapi, saya menyimpan jawaban itu untuk diri saya sendiri. Dan akhirnya, akan coba saya jelaskan disini.
Saya (24th,11 bulan,25hari) 21 hari menuju hari ulang tahun saya ke 25, dimana 25 merupakan angka yang diberikan oleh ibu saya, dan akhirnya terpatri dalam otak saya, batas bahwa saya harus segera melakukan ijab qabul dengan lelaki yang (harusnya) saya miliki dan cintai.
Saya besar dalam keluarga sederhana yang tinggal di rumah sederhana, quite happy with my mom, dad, and sister. Masa kecil saya, dihabiskan di bandung sampai dengan kelas 6SD dan saya melanjutkan sekolah di bekasi-jakarta, hingga perguruan tinggi di depok. Karena masa kecil saya yang jauh dari orang tua kandung saya (saya tinggal sama nenek di bandung) membuat beberapa perilaku saya sedikit pendiam, karena hidup dengan nenek yang otoriter dan memiliki segala fasilitas, selalu membuat saya nurut, kalo gak nurut saya bisa dikurung berjam-jam di dalam kamar mandi. Saya sering menangis waktu kecil dulu di bandung, mengadu hanya kepada ibu saya di telepon, kenapa mama gak jemput saya (mama waktu itu dinas di jakarta), kenapa mama gak datang, dan kenapa-kenapa lainnya. Hidup saya sendiri tidak susah di Bandung, nenek saya bisa dibilang sosok yang dihormati dan besar dengan harta melimpah. Tapi tetap, tidak ada mama membuat saya kehilangan sosok ibu. Saya sering menanyakan, kenapa gak tinggal sama mama aja di jakarta? Nanti,kalau sudah besar, kata mama. Dan akhirnya saya pun tahu jawabannya.
Kelas 2SD saya sempat dipindahkan ke Jakarta, dan saya akhirnya tahu, alasan saya lebih baik tinggal di Bandung.
Setelah satu tahun saya tinggal di Jakarta, papa saya senang bukan main, saya dimanjakan dengan bermacam mainan, jajanan, dan lainnya. Tapi, perilaku papa kepada mama kenapa buruk sekali? Saya yang hanya duduk di bangku 2SD pun bingung, serba salah, papa selalu bersikap baik padaku,berbicara lembut padaku, tapi tidak pada ibuku, papa suka tiba2 memecahkan barang ketika ngobrol sama ibuku, aquarium berisi ikan mas koki saya pun jadi korban. Dan saya kembali dipindahkan ke Bandung. Trauma tingkat rendah. Terjawab sudah.
Mama saya pernah bercerita, nenek saya sering bilang ke mama, sudah, kalian bercerai saja, berapa sih yang diminta lelaki brengsek itu! Kasih saja,. biar hidup tenang kamu sama anak2. Dan sekali lagi saya mengerti. Demi anak2, kata mamaku, ia tak kan bercerai.
Semakin saya dewasa, dan akhirnya pindah ke Jakarta (1smp) saya pun tinggal bersama adik dan kedua orang tua saya, di rumah sederhana kami. Adik saya waktu itu masih di kelas 4/5 SD saya lupa. Masa-masa SMP saya penuh pemberontakan, tapi kali ini, papa saya sudah mulai berperilaku buruk pada saya, mungkin susah mengatur anak perempuannya ini, jadinya omelan dan cacian ditujukan pada saya dan mama saya, pernah saya dikejar-kejar sampai kamar dengan ikat pinggang di tangannya, it was horrible. Dan semakin lah saya menjadi-jadi, terlalu banyak bergaul, banyak teman, hobi basket, membuat saya males dirumah. Sekalinya pulang ,kena marah papah, dan melihat mamah dimarahin juga. Mau berontak sama papa, toh tenaga beliau lebih kuat, akhirnya saya hanya bisa dikamar sambil mendengarkan musik2 macam slipknot, limp bizkit, korn, dan yang keras2 macam itu, jaman itu. Hal ini berlangsung sampai saya SMA, dan akhirnya diterima di perguruan tinggi, yang mengharuskan saya untuk kost di depok. Senang bukan kepalang. Fakultas baru, lingkungan baru, jiwa baru dan (mungkin) kualitas iman yang baru akhirnya membuat saya sempat berfikir, merenung, kontemplasi, apapun namanya, bahwa saya harus melindungi dan membanggakan mama saya, hanya mama saya. Karena saya hanya sayang sama mama saya, hanya mama saya yang membesarkan saya, dan hanya mama saya yang luar biasa segala rintangan dalam hidupnya.
Semakin tua pula, syukurlah papa saya sedikit berubah, kata2 bentak dan kasar berkurang, apalagi kalau ada saya, karena saya mulai berani membela mama saya. Ibaratnya, kalau papa saya bersikap buruk pada mama saya, sayapun gak segan membalasnya demi mama. Sampai kapanpun.
Setau saya, KDRT terbagi dalam tiga jenis, secara fisik,perkataan (verbal),dan psikologis (emosional). Dan ketiganya (saya ingat sekali ada di dalam buku nikah) diharamkan. Yang terjadi dalam keluarga saya, hanya tidak secara fisik saja. Dan itu lebih berbekas,terutama pada saya, selaku anak pertama dalam keluarga.
Sekali lagi, saya bukannya tidak mau menikah, kodrat wanita pasti ingin dinikahi. Saya juga tidak takut, dengan masalah materi, janji Allah telah pasti untuk mereka yang berani menjaga kesucian dengan menikah, yang saya takut hanya satu, KDRT. Keinginan saya untuk menikah di umur 25 kelak sangatlah besar, tapi lebih besar ketakutan saya pada KDRT lagi. Pasti mereka pun pernah mengalami masa2 indah berpacaran, menjajaki diri, toh hal itu tidak berarti seindah pernikahan mereka. Mungkin inilah yang akhirnya yang membuat saya belum berani mengambil langkah itu, meski hati kecil berkata lain.
Hope y'all understand.

4 komentar:
kawin yuk?! << udah ada yg bilang ini ty? :D
ya..ya.. aku tahu sekarang :)
semoga ketakutanmu segera berlalu..
pertanyaannya, MT itu sapa ty? :p
*ditakol*
Menikah bukan tuntutan ty.. Itu lebih kepada kesiapan diri menuju fase kehidupan yang baru. Kalaupun sudah siap, tapi menurut Ilahi belum waktunya, ya belum terlaksana.
Sebaliknya, kendati belum siap, tapi di garisNya sudah menunjukkan waktunya. Ya tetap terlaksana.
So, di otak gue sekarang pernikahan itu tak bisa dipaksakan. Itu akan terjadi ketika memang semuanya sudah benar-benar siap dan sudah waktunya :)
dee>> beluma ada yang seperti itu di :)
dino>>*takol beneran* iya, ty menyiapkan segala persiapan, lah kalo blm ada yang nawarin "kentang goreng" nya gimana dong :p
Post a Comment